Loker dokumen: Inovasi Bapelitbang Kabupaten Sikka’: mampukah menjawab tantangan kebutuhan data empirik dalam pengambilan kebijakan publik berbasis bukti riil di lapangan dalam mencapai efektivitas anggaran?
Konsep
ini juga sebelumnya telah dikemukakan oleh Kapucu (2006) yang dikenal sebagai managemen publik
baru atau New Public Management (NPM) yang menekankan pentingnya reformasi sektor
publik mengadopsi sistem managerial sektor swasta. Kapucu menawarkan 6 (enam) kunci utama reformasi
birokrasi dimana penerapan teknologi informasi dan komunikasi menjadi bagian
penting untuk mencapai good governance (kepemerintahan yang baik) yang
dicirikan dengan pelayanan publik yang efisien termasuk dalam perencanaan
kebijakan publik yang efektif berbasis data dengan tujuan mencapai efektivitass
anggaran. Penganggaran yang efektif berkaitan dengan bagaimana mengalokasikan input
(sumber daya manusia, alam, modal dan teknologi) semaksimal mungkin guna
mencapai hasil dan dampak yang optimal.
Menjawab
tantangan ini, Tim IT Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan
(Bapelitbang) Kabupaten Sikka, pada tanggal 24 Agustus 2020 mempresentasikan sebuah
website bertajuk ‘Loker Dokumen’ dihadapan Bupati Sikka, Fransiskus Roberto
Diogo, S.Sos, M.Si dan seluruh pimpinan Perangkat Daerah (PD) Lingkup Pemkab
Sikka. Sistem ini menjadi titik awal inovasi pemanfaatan teknologi informatika yang
mengedepankan model sistem yang terintegrasi dan dapat diakses melalui
perangkat komputer dan smartphone yang terkoneksi dengan jaringan internet.
Aplikasi ini diharapkan mampu menjadi media bersama seluruh PD di Kabupaten
Sikka (dinas, badan, kantor, kecamatan, kelurahan, desa, bahkan puskesmas
hingga sekolah-sekolah), untuk berbagi-pakai data, dokumen dan informasi dari
masing-masing unit kerja kapan dan dimana saja.
Sistem
yang sedang dikembangkan ini mendapat tanggapan positif dari Bupati Sikka.
Bupati Sikka menginstruksikan sistem ini sebagi aplikasi yang wajib digunakan
seluruh PD lingkup Pemkab Sikka. Lebih lanjut Roby mengatakan bahwa aplikasi
yang sedang dikembangkan ini perlu ditambahkan menu laporan yang dapat diakses Inspektorat
Kabupaten Sikka sehingga memudahkan dalam pemantauan dan pengawasan aktifitas
semua unit kerja dalam melakukan upload dokumen. Bupati Sikka juga menginstruksikan
tim pengembang (Bapelitbang Sikka) segera menyusun berbagai dokumen terkait
proses kerja, panduan manual bagi pengguna/ manual user, hingga menyusun
jadwal pelatihan untuk admin dari seluruh unit kerja. Bupati Sikka juga menginstruksikan
beberapa dinas terkait seperti Dinas Komunikasi dan Informatika serta
Inspektorat Kabupaten Sikka untuk berkolaborasi dan berkoordinasi dengan
Bapelitbang Sikka dalam mengembangkan aplikasi ini.
Secara
rinci aplikasi ini memuat menu dokumen yang akan berisi semua dokumen penting
dan produk hukum seluruh unit kerja yang dapat diakses internal organisasi
ataupun berbagi pakai dengan PD lain. Hadir juga menu ‘data tertentu’ yang
berisi data stunting, penerima Program Keluarga Harapan (PKH), Data Terpadu
Kesejahteraan Sosial (DTKS), hibah air minum, rekap asset daerah dan data
SD-SMP se-Kabupaten Sikka. Data stunting misalnya ditampilkan data rinci
penderita stunting hingga tingkat puskemas/ pustu dan hasil olahan data dapat
ditampilkan dalam bentuk info grafis yang mempermudah semua pemangku
kepentingan/ stakeholders dan pengambil kebijakan/ policy makers dalam
mengalokasikan anggaran secara efektif dan efisien untuk mendesign serta
memutuskan intervensi program/ kegiatan yang tepat.
Mengapa
data menjadi penting?
Ketersediaan
data yang valid dan update menjadi hal krusial bagi pengambil kebijakan
dalam mengalokasikan sumber daya secara efisien untuk mendesign kualitas
program, kegiatan serta layanan pemerintah yang optimal yang berdampak positif
bagi kesejahteraan masyarakat sebagai pembayar pajak. Evidence-based Policy Making
(EBPM) atau pengambilan kebijakan berbasis fakta riil di lapangan telah
menggeser pola pikir tradisional dalam pengambilan kebijakan publik yang
biasanya berbasis opini (Gray, 1997). EBPM menjadi jantung dalam memodernisasi
pemerintahan (Rudd, 2008) dengan memanfaatkan informasi dan pengetahuaan secara
efektif dan kreatif dalam pengambilan dan implementasi kebijakan serta dalam
memberikan pelayanan publik (Blunkett, 2002). Apa yang bekerja/ what works
untuk menyelesaikan masalah atau isu social, dan rasionalitas yang komprehensif
menjadi inti dari EBPM. Dalam EBPM penting bagi peneliti masalah sosial
mengetahui jenis bukti/ data, standar, kualitas dan validitas data yang
dikumpulkan, serta bagaimana menggunakan data, informasi yang dipakai dalam
pengambilan kebijakan publik.
Walaupun
EPBM terlihat seperti ‘framework sakti’ dalam pengambilan kebijakan, namun Lindblon
(1959) pada tulisannya mengkritik EPBM karena dinilai tidak mampu menunjukkan realitas
dari proses pengambilan sebuah kebijakan publik. Idealnya, kebijakan publik
harus didasarkan pada data valid di lapangan namun tidak dipungkiri jika para
pengambil kebijakan memiliki keterbatasan dalam merasionalisasikan pikiran
mereka yang oleh Lindblom dikenal dengan ‘bounded rationality’ atau rasional
yang terbatas.
Herbert
Simon (1947) menerangkan jika dalam pengambilan kebijakan, seorang pengambil
kebijakan kerap kali sulit mencapai rasionalitas yang tinggi dan objektif
akibat keterisolasian serta banyaknya informasi dan alternatif kebijakan yang
harus diproses dalam kurun waktu yang singkat. Terkadang ‘trial and error’
menjadi pilihan yang akhirnya diputuskan untuk menyelesaikan isu-isu sosial
yang ada. Keterbatasan lain dalam penggunaan EBPM adalah tidak tersedianya data
yang valid, relevan dan spesifik yang semestinya disediakan organisasi
pemerintah. Dalam rational choice modelling/ model pilihan rasional, stakeholder
terkait berusaha merasionalisasikan pikiran dan pilihan alternatif kebijkan
demi memuaskan preference/ sesuatu yang mereka sukai. Lebih lanjut preference
selalu lekat dengan prinsip pemaksimalan utility/ keuntungan dari
individu pengambil kebijakan.
Kebijakan
berbasis data empirik dan kaitannya dengan efektivitas anggaran
Efektivitas anggaran dapat
dicapai dengan menggunakan input yang sama dalam menghasilkan outcome
yang lebih maksimal, atau dengan mengurangi input untuk mendapatkan hasil
dengan kualitas dan kuantitas yang sama yang mengedepankan inovasi dan
memanfaatkan teknologi (Aarni Heiskanen, 2013). Pendapat ini juga
didukung oleh Andrew C.Worthington seorang professor dari Griffith Business
School, Griffith university, Australia. Andrew (2000, hal. 202 – 203) membagi
efektivitas anggaran menjadi 3 (tiga) bagian penting yaitu effisiensi teknis
yang mengacu pada penggunaan sumber daya yang produktif, effisiensi alokatif
yang mengacu pada bagaimana memilih alternatif terbaik dalam mendistribusikan
sumber daya untuk mencapai keluaran yang optimal, dan yang terakhir adalah
gabungan efektivitas teknis dan alokatif dalam menggunakan memaksimalkan
anggaran untuk memproduksi barang dan jasa yang berkualitas bagi pelanggan/
masyarakat.
Lebih
lanjut (Gillroy, 1992) berpendapat bahwa kebijakan pasti akan menguntungkan
sebagian pihak yang menang/ diuntungkan (winners) dan sebagiannya akan
dirugikan/ kalah (lossers) atau dengan kata lain kebijakan publik tidak
dapat menyenangkan semua pihak. Dalam konsep ekonomi dikenal dengan pareto
optimality/ pareto efficiency. Dalam konsep pareto ini, tidak
mungkin mencapai sebuah kebijakan publik tanpa ada ‘pihak yang dikorbankan’.
Namun dalam konsep ini dijelaskan winners akan memberikan kompensasi
kepada lossers yang menurut pemahaman penulis di lingkup pemerintahan
daerah, pajak/ retribusi atau penghasilan lain yang diperoleh dari program/
kegiatan yang akan dilaksanakan dapat digunakan untuk kegiatan/ program lain
bagi pihak yang merassa dirugikan. Dengan demikian akan dicapai pareto
improvement dimana tidak ada pihak yang dirugikan dan tercapailah
kesejahteraan bersama (Gillroy 1992, hal.92).
Kembali
lagi ke Loker Dokumen, tentu saja harapan para pengambil kebijakan termasuk
masyarakat agar sistem ini dapat dikembangkan dengan baik yang mencakup konten
dan kemudahan akses dan menu yang sederhana/ friendly users. Aplikasi ini
diharapkan juga menjadi basis data yang valid, komprehensif dan inovatif.
Dengan demikian pengambil kebijakan di Kabupaten Sikka dari lingkup terkecil
hingga kabupaten mampu menggunakan data dan informasi yang tersedia dalam aplikasi
ini untuk mendesign, mengimplementasikan dan mengevaluasi kebijakan publik
secara efektif dan efisien demi menyelesaikan isu-isu dan masalah sosial yang
ada guna mensejahterakan masyarakat sebagai pemegang kedaulatan tertinggi di
republik ini. Website ini juga diprediksi mampu mengkoneksikan keseluruhan PD
lingkup Kabupaten Sikka dalam membangun sistem yang terintegrasi.
GDG
Komentar
Posting Komentar